DASAR PENGETAHUAN MANUSIA DENGAN KONSEP TAUHID

DASAR PENGETAHUAN MANUSIA DENGAN KONSEP TAUHID



Perkataan diatas dapat disimpulkan bahwa PENGETAHUAN yang MENENTUKAN NASIB seseorang. seperti penulis katakan sebelumnya disinilah proses pembentukan Khalifah terjadi, baik secara makrosystem maupun mikrosystem.

Pengetahuan adalah kunci utama dalam kita menjalani hidup, begitu pentingnya pengetahuan ini sehingga diatur Allah dalam Al-Quran. Tetapi sebelum penulis menjelaskan apa saja yang dijelaskan Allah tentang hal tersebut ada baiknya kita memahami dulu konsekuensi dari sebuah pilihan, untuk menjadikan Al-Quran sebagai pedoman; petunjuk; dan yang menjelaskan segala sesuatu tentang Hidup dan Kehidupan baik diri kita maupun alam semesta ini. Bahwa tidak ada perintah; pengetahuan; pelajaran; dan penjelasan yang kita ikuti selain yang tertera di dalam Al-Quran berikut yang direferensikan-Nya, yang hal tersebut merupakan implementasi dari kalimat Tauhid: “La Ilaha Illallah” - tiada Tu(h)an yang disembah/diikuti/diabdi selain Allah – Tu(h)an Semesta Alam.
            Setelah pembaca memahami dan dapat melaksanakan konsekuensi pilihan tersebut maka ada baiknya kita melakukan seperti pepatah bijak ini “Sesat di ujung jalan surut ke pangkal jalan” karena dengan semakin banyaknya kelompok-kelompok/mazhab (musyrik) yang bermunculan membuat banyak keputusan-keputusan yang tidak lagi diambil berdasarkan Al-Quran yang membuat kita/ummat bingung. Untuk itu mari kita cerdasi dan tadabburi kembali firman Allah dalam Surat An Nahl [16] ayat 78 :

Dari firman Allah diatas dapat disimpulkan bahwa setiap Manusia dimuka bumi ini terlahir tanpa mengetahui sesuatu apapun, tanpa memandang Suku, Bangsa, Jenis Kelamin, Kaya-Miskin, sehat-sakit, cakep-jelek semuanya mutlak tidak memiliki Pengetahuan sedikit pun. Lalu kita diberikan pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran agar dapat kita pergunakan semaksimal mungkin sebagai tanda syukur kepada DIA yang telah memberikan hal tersebut.

            Seiring berjalannya waktu kita yang telah terlahir mulai mendapatkan Pengetahuan, yang penulis kelompokkan menjadi 3 Dasar Pengetahuan :
1.   SUBJEKTIF ; Pengetahuan yang kita dapatkan dari “GURU” (Orang yang kita anggap Hebat/lebih mengetahui dari kita) seperti Orang Tua, Pengajar, Buku hasil karangan dari katanya orang hebat/terkenal, dll.
Contoh kasus : “jangan duduk diatas bantal nanti bisulan”, “jangan duduk di depan pintu nanti jauh jodoh”, “jangan kencing sembarangan, harus permisi dulu dengan “penunggunya”, Manusia berasal dari Kera (teori Darwin)”, dan atau lain sebagainya.
Dan bahayanya, karena pengetahuan ini kita sanggup mempertahankan argumen kita bahwa itu benar. Seperti yang kita ketahui bahwa pengetahuan ini berdasarkan dari prasangka, oleh sebab itu  Pengetahuan ini dilarang oleh Allah dalam Surat Yusuf [12] ayat 40 :

Ayat diatas sudah sangat jelas untuk tidak mengikuti perkataan/perintah siapapun atau apapun yang bukan dari Allah (dalam hal ini hanya mengikuti Al-Quran), karena DIA lah yang berhak memutuskan dan menjelaskan segala sesuatunya.

2.   OBJEKTIF ; Pengetahuan yang kita dapatkan dari lingkungan atau pun perkataan dari banyak orang lalu kita ikuti dan jadikan pedoman. Jenis pengetahuan ini di jelaskan Allah dalam Surat Al An’aam [6] ayat 116 berikut ini :

Dari ayat diatas jelas melarang untuk mengikuti Pengetahuan jenis ini, karena dapat dipastikan dasarnya dari prasangka atau menduga-duga.
Contoh kasus : ini kejadian yang dialami oleh penulis pada tahun 2000 di Provinsi Kepulauan Riau, Kabupaten Bintan tepatnya di sebuah pantai Hotel Mana-Mana Beach di Kawasan Lagoi dimana pada waktu itu Paman saya (penulis) yang seorang Mayor Angkatan Laut menerima laporan dari anak buahnya bahwa terjadi penampakan/munculnya “Kapal Lancang Kuning” (sebuah Kapal legenda cerita rakyat melayu) di pantai tersebut, berita itu disampaikan kepada saya dan beliau menyarankan untuk melihat kejadian tersebut secara langsung, tetapi karena pertimbangan “menurut cerita katanya orang-orang kapal tersebut kemunculannya biasanya tidak lama” dan jarak dari tempat kami ke lokasi tersebut memakan waktu 4jam maka saya mengurungkan niat melihat kejadian tersebut dan menunggu beritanya muncul di Surat Kabar setempat, rupanya kejadian tersebut berlangsung lama dari jam 06.00wib s/d 18.00wib menurut laporan anak buah paman yang dibenarkan oleh berita surat kabar lokal. Beberapa tahun kemudian tepatnya sekitar tahun 2006 saya mempunyai kesempatan untuk berkunjung di Hotel Mana-Mana Beach tersebut untuk keperluan bisnis dan disana saya iseng bertanya dengan salah seorang dari karyawan yang kebetulan sudah sangat lama bekerja disana tentang kejadian tahun 2000 silam mengenai “kemunculan kapal lancang kuning” selesai saya bertanya di menjawab dengan diawali senyum lebar karena menurut dia yang melihat langsung kejadian tersebut itu hanyalah seonggok kapal tua yang karam yang muncul diakibatkan dorongan arus bawah laut yang kuat dan terjadi setiap setahun sekali orang menyebutnya “musim angin utara” yang terkenal sangat kuat tiupan anginnya di Kepulauan Riau ini, dari keterangan orang tersebut saya hanya bisa tersenyum simpul sambil berfikir betapa “hebatnya kekuatan informasi kebanyakan orang” yang masing-masing orang tersebut pun tidak sadar menyampaikan sebuah kabar palsu hanya karena dia percaya dengan orang yang menyampaikan. Dan cerita tersebut pun masih terdengar hingga sekarang. Sedikit untuk penjelas saya sampaikan link yang memuat berita tentang berita "Kapal Lancang Kuning"


3.   ILMU ; Pengetahuan ini secara sadar atau tidak sadar juga berasal dari Subjektif dan juga ada yang berasal dari Objektif ataupun keduanya, tetapi letak perbedaannya ada pada pembuktian dengan “tiga sarana” telinga, mata dan akal/logika yang biasa kita sebut dengan menggunakan metode ilmiah. Penggunaan metode ini banyak dijelaskan Allah dalam Al-Quran lebih dari 37 ayat karena sangat penting kaitannya untuk memahami Al-Quran, karena untuk memahami Al-Quran tidak boleh ada intervensi dari pengetahuan-pengetahuan Subjektif maupun Objektif, salah satunya seperti surat diatas (16;78 dan 6;116) serta Surat Al Israa’ [17] ayat 36 :

Ayat ini sudah sangat jelas bahwa sesuatu tidak bisa dipertanggungjawabkan bila hanya sebatas pengandalkan prasangka atau mengikuti “katanya” tapi harus dengan fakta menggunakan metode ilmiah dan itu adalah perintah Allah.



ilustrasi beberapa menit saja, sdh bisa terjadi pergeseran nilai dan maknanya, bagaimana bila terjadi puluhan apa lagi seratus s.d ribuan thn lamanya.😰


berdasarkan hal tersebut diatas, Al-Quran juga berasal dari sumber tersebut, ”Dia” adalah Doktrin dari orang tua, guru, maupun buku2 (pengetahuan Subjektif), “Dia” juga dimiliki dan dibenarkan/di "imani" oleh ±90% penduduk indonesia dan ±40% penduduk Dunia (pengetahuan Objektif), dan pada saat kita menjatuhkan Pilihan untuk menjadikan Al-Quran sebagai Konsep, Pedoman, Petunjuk dan Dasar ILMU tentang Aturan-Aturan Allah maka saat itu lah kita dituntut untuk ber-TAUHID yaitu Hanya berpedoman pada Al-Quran berikut yang direferensikan-Nya.


SUDAHKAH ANDA BERTAUHID???



Pemahaman lebih lanjut silahkan baca artikel selanjut yang berjudul :  


INGATLAH,
ANDA TIDAK DI LAHIRKAN MENJADI SIAPA,
PENGETAHUANLAH YG MEMBUAT ANDA MENJADI SIAPA

“HIDUP ITU PILIHAN”
HAK prerogatif yang diberikan ALLAH kepada MANUSIA




klik "ALLOW" pada notifikasi yang muncul agar dapat menerima update terbaru, atau klik gambar lonceng merah di kanan bawah browser - continue

loading...

Belum ada Komentar untuk "DASAR PENGETAHUAN MANUSIA DENGAN KONSEP TAUHID"

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog sederhana ini, cara bicara menunjukkan kepribadian, berkomentarlah dengan baik dan sopan…

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel