SEMUA NABI & RASUL MUSLIM - YESUS penganut DIN AL-ISLAM ???

FAJAR DIN AL-ISLAM
Arti Kata Nabi
Menurut Jerald F. Dirks, dalam bahasa Inggris, kata "Nabi" dan turunannya seperti "ramalan" dan "ramalan" berasal dari kata Yunani "Nabi". Ini diambil dari terjemahan "nabi" dalam bahasa Ibrani dan Arab (yang berasal dari bahasa Akkadia "nabu"), yang berarti "memanggil", "mengumumkan", dan "berbicara". Oleh karena itu, definisi "Nabi" adalah seseorang yang mengumumkan atau menyampaikan wahyu atau pesan Tuhan, dengan kata lain, seseorang yang berbicara atas nama Tu(h)an Semesta Alam.
Se0rang Nabi adalah seseorang yang menyampaikan berita dari "Surga" kepada umat manusia, yang bisa menjadi berita dari masa lalu, sekarang dan masa depan. Semua "Berita Surga" yang disampaikan oleh seorang Nabi dianggap sebagai Nubuah; Bernubuat; Ramalan; tentang sesuatu yang akan terjadi di masa depan, terlepas dari ia mungkin tidak menjadi saksi atau mengalami atau memenuhinya sendiri. Nubuat-Nubuat dapat kita temukan dalam Kitab-Kitab Suci (Taurat & Injil) serta dalam Al-Qur'an.

Arti Kata Muslim
Menurut Tata bahasa Arab, istilah "Muslim" adalah bentuk isim fa'il (subjek) dari kata kerja "aslama-yuslimu-islāman", yang berarti tunduk dan menyerah. Oleh karena itu, dalam konteks ini, subjek ditujukan kepada makhluk apa pun yang aslama (tunduk; patuh) pada sistem hukum-Nya. Karena itu, "Muslim" adalah gelar yang diberikan untuk makhluk apa pun yang tunduk dan menyerah pada sistem hukum Lord of the Universe atau Tuan-nya Semesta Alam. Sementara kata "Islam" mengacu pada nama Din/hukum Tu(h)an, yang berisi seperangkat sistem dan aturan yang berfungsi sebagai pengabdian dasar setiap makhluk kepada Tu(h)an. Intinya, Din Al-Islam adalah sistem hukum yang mengatur kepatuhan semua makhluk (terutama manusia) terhadap Tu(h)an Sang Penguasa Alam Semesta,
Satu Pengabdian, Ini adalah arti sebenarnya dari "Muslim", di mana itu bukan kata untuk mengidentifikasi seseorang yang memeluk agama generasi Nabi Muhammad, karena istilah "Islam" dan "Muslim" telah ada jauh sebelum masa kenabian Nabi Muhammad.

a. Silakan baca ayat-ayat berikut ini di mana Al-Qur'an menyebut Nabi Ibrahim dan keturunannya sebagai "muslimūn" (jamak dari Muslim), yang artinya; orang-orang tunduk; menyerah; pasrah; berserah diri;
Al Baqarah (2); ayat 128




Al Baqarah (2); ayat 131, 132, 133




b. Penamaan "Muslim" sudah ada jauh sebelum era Muhammad. Tuhan menegaskan hal ini dalam Surat Al-Hajj (22); ayat 78:

Al-Hajj (22); ayat 78




c. Pengakuan Nabi Joseph / Yusuf (putra Nabi Ya'qub) dalam doanya untuk menjadi seorang Muslim selama sisa hidupnya dimulai dalam Al-Qur'an Surat Yusuf (12); ayat 101, sebagai berikut:

Surat Yusuf (12); ayat 101




d. Kata "Muslim" juga dapat dibaca dalam Surat Yunus (10); ayat 84, ketika Nabi Musa memberi perintah kepada umatnya:

Surat Yunus (10); ayat 84




e. Al-Qur'an menyebut orang-orang Nabi Lot (Luth) sebagai "Muslim" dalam Surat Al-Dzariyat (51); ayat 35-36 sebagai berikut:
 Surat Al-Dzariyat (51); ayat 35-36


f. Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Sheba (Balqis) dalam Surah An-Naml (27); ayat 42:
Surah An-Naml (27); ayat 42


g. Demikian pula, kata "Muslim" juga berlabuh di para murid dan pengikut Yesus, sebagaimana dinyatakan dalam surat Ali Imran (3); ayat 52 dan Al-Ma'idah (5); ayat 111:

surat Ali Imran (3); ayat 52


Al-Ma'idah (5); ayat 111



Jelas bahwa kata "Muslim" bukan istilah untuk merujuk generasi Nabi Muhammad secara eksklusif. Namun, itu juga berlaku untuk semua Nabi dan Rasul Allah sebelumnya. Dengan demikian, setiap mu'min (orang beriman) tidak boleh mendiskriminasikan iman mereka kepada semua Nabi-Nya dan Kitab-Kitab Suci sebagaimana ia tegaskan dalam surat Al-Baqarah (2); ayat 136 sebagai berikut:
surat Al-Baqarah (2); ayat 136


Dia lebih lanjut menegaskannya dalam surat Al-Qur'an Ali-Imran (3); ayat 84-85:
Ali-Imran (3); ayat 84-85


Selain itu, istilah "Muslim" tidak hanya berlabuh untuk manusia, tetapi juga untuk segala sesuatu di alam semesta ini, makhluk hidup dan benda mati, yang selalu tunduk (aslama) baik secara sukarela atau wajib untuk sistem-Nya. Ini ditegaskan dalam Al-Qur'an surat Ali Imran (3); ayat 83 :
surat Ali Imran (3); ayat 83


Dalam ayat ini, Tuhan menegaskan bahwa di antara manusia, kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk mencari sistem hidup jahiliyah (kepalsuan), yang berada di luar sistem kehidupan yang telah diberikan oleh-Nya, yaitu sistem Islam (aslama); sistem kepatuhan. Lebih jauh, Dia ingin mengundang manusia untuk berpikir dan mengamati di lingkungan mereka, di mana semua makhluk-Nya, baik di Surga/LANGIT/ALAM SEMESTA maupun di BUMI telah ASLAMA (tunduk; menyerah; Muslim) ke Sistem Kebenaran-Nya.

Dari semua tulisan diatas sangat Jelas menunjukkan bahwa istilah "Islam" atau "Muslim" adalah kata-kata yang dapat diterapkan secara universal/menyeluruh. Referensi dari ayat-ayat di atas membuktikan bahwa ada Kekuatan/Kekuasaan Tuhan atau sistem hukum alam yang harus tunduk dan dipatuhi oleh semua makhluk (termasuk debu sekalipun) baik secara sukarela atau pun terpaksa – wajib. Sehingga menciptakan seluruh kehidupan di alam berjalan secara seimbang dan teratur seperti yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Ketaatan pada sistem hukum Allah ini dikenal sebagai "DIN Al-Islam" dan itu ada di alam semesta dan ditulis dalam Kitab Suci. Sementara itu subjek yang tunduk pada sistem ini dikenal sebagai "Muslim" dan istilah ini dapat digunakan untuk manusia dan atau subjek lainnya yang ada di alam semesta.

Semua makhluk (selain manusia) sudah Muslim. Kita tidak akan menemukan binatang dan tumbuhan yang hidup di bumi, atau benda-benda di langit, seperti matahari dan bintang-bintang yang kufur (tidak taat) kepada Tuhan. Faktanya, satu-satunya makhluk yang berpotensi tidak taat adalah manusia. Untuk alasan ini, Islam sebagai Sistem/Aturan/Hukum Tuhan tidak akan digambarkan sebagai agama. Itu tidak dapat dibatasi atau dipersempit hanya sebagai agama tradisional. Namun, DIN AL-ISLAM adalah sistem kehidupan kebenaran yang berlaku secara universal untuk semua makhluk. Mempersempit makna din al-Islam sama dengan mengubah fungsi Din Allah. Pemahaman ini mengarah pada cara berpikir sekularisme, di mana Tuhan hanya memiliki kekuatan dalam kehidupan alam semesta (Dia hanya Raja di Surga) dan sebaliknya, Dia tidak berdaya dalam kehidupan umat manusia. Akibatnya, yang dipatuhi oleh manusia adalah manusia sesama mereka, yang memposisikan diri sebagai Penguasa atau Raja dalam kehidupan mereka (sistem musyrik).

Ini mirip dengan istilah "ISLAM", di mana ia selalu dikaitkan dengan agama yang berorientasi kepada Nabi Muhammad, seorang Nabi yang lahir di Saudi selama abad ketujuh Masehi dan diyakini sebagai pembawa agama terakhir yang paling sempurna dan lengkap oleh “pengikutnya”.

Ada beberapa argumen yang muncul untuk merevisi definisi "Islam". Pertama, dalam bahasa Arab, esensi dari kata "Islam" adalah tunduk atau menyerah. Makna ini diperoleh untuk mengakui kedaulatan Allah dalam memasuki rasa Damai-Nya (salām). Kedua, hadis Nabi Muhammad untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama alami bagi seluruh umat manusia (kullu maulūdin yūladu ‘alā al-fiṭrah…). Ketiga, sejumlah ayat dalam Al-Qur'an menegaskan bahwa para nabi sebelumnya sebelum Muhammad adalah Muslim seperti yang dijelaskan sebelumnya. Dari sini, Neal Robinson, dalam bukunya "Pengantar Ringkas Islam" (2001: 22-24) menyimpulkan bahwa keyakinan inti dan praktik keagamaan semua Nabi identik dengan apa yang sedang dilakukan oleh Nabi Muhammad.

Dalam Injil, Nabi Isa juga mengajarkan tentang sikap "tunduk" atau "menyerah". Ini berarti bahwa Nabi Isa juga mengajarkan sistem kepatuhan yang sama terhadap kehendak dan perintah Tuhan, Tuhan Yang Maha Esa (din al-Islami). Hal ini dapat dilihat dalam ayat-ayat berikut:

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 7:21)

Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yohanes 5:30)

Dari penjelasan yang diberikan di atas, dapat disimpulkan bahwa "muslim" bukanlah istilah untuk menggambarkan pengikut Nabi Muhammmad secara eksklusif atau mereka yang memeluk agama Islam. Namun, itu digunakan untuk mewakili apa pun yang tunduk (aslama) ke sistem hukum Allah (din al-Islami) dari zaman Nabi Adam hingga hari ini. Dari sini, harus dipahami mengapa Tuhan Semesta berulang kali menyatakan bahwa satu-satunya DIN (sistem hukum) yang Dia minta hanyalah DIN AL-ISLĀM (sistem penyerahan dan penyerahan diri kepada hukum Tuhan). Harap perhatikan al-Qur'an surat Ali Imran (3); ayat 19 dan 85 sebagai berikut:
surat Ali Imran (3); ayat 19


surat Ali Imran (3); ayat 85


Sebagai kesimpulan, arti sebenarnya dari "DIN AL-ISLAM" adalah sistem kepatuhan makhluk hidup terutama pada manusia terhadap hukum Allah sebagaimana diajarkan oleh semua Nabi dan Rasul dari berbagai bangsa, di seluruh peradaban manusia di masa lalu, sekarang, dan masa depan, yang tidak pernah berubah baik dalam hal aqidah (iman) atau syariah (hukum).






klik "ALLOW" pada notifikasi yang muncul agar dapat menerima update terbaru, atau klik gambar lonceng merah di kanan bawah browser - continue
loading...

Belum ada Komentar untuk "SEMUA NABI & RASUL MUSLIM - YESUS penganut DIN AL-ISLAM ???"

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog sederhana ini, cara bicara menunjukkan kepribadian, berkomentarlah dengan baik dan sopan…

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel