TUJUAN HIDUP berdasarkan KONSEP TAUHID

 TUJUAN HIDUP berdasarkan KONSEP TAUHID

Setelah saudara memahami dengan benar DASAR PENGETAHUAN MANUSIA dan memilih untuk mengabdi hanya kepada ALLAH SWT yang kita namakan TAUHID dengan kalimatnya “LA ILAHA ILLALLAH” (Tiada Tu(h)an yang diabdi selain Tu(h)an Semesta Alam) maka selanjutnya dibutuhkan beberapa kesiapan spiritual seperti :

1) Kedalaman Spiritual, yang artinya secara spiritual/kerohanian benar-benar percaya bahwa Tu(h)an/Allah SWT itu ada dan siap mengabdi terhadap segala perintahNYA yang dalam hal ini menjadi dasar tolak ukurnya adalah Al Quran yang sama-sama kita yakini sebagai Firman Allah dan menjadi dasar ILMU tentang segala sesuatunya dalam Hidup dan Kehidupan Manusia, karena AL-QURAN adalah :
  •     Petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang batil; Qs.Al-Baqarah(2) ayat 185
  •     Penjelasan yang sempurna bagi manusia; Qs.Ibrahim(14) ayat 52
  •     Bukan “Buku Syair” (bukan untuk dilantunkan) tetapi Buku Pengetahuan dan sebagai Kitab Penerang (Hak & Batil); Qs.Yasiin(36) ayat 69
  •     HADIST yang PALING BAIK; Qs.Az-Zumar(39) ayat 23
Dan masih banyak lagi Firman-Firman Allah didalam Al-Quran yang dimana tidak akan terdapat pertentangan baik antar sesama Ayat maupun Akal Pikiran Manusia (Metode Ilmiah); (Qs.An-Nisaa(4) ayat 82), bila terdapat pertentangan bukan Al-Qurannya yang salah tetapi anda lah yang salah menafsirkannya.

2) Kejujuran Intelektual, tingkat kejujuran yang paling sulit adalah Jujur pada Diri Sendiri apalagi bila dihadapkan antara emosi dan rasional/logika, terkadang kita lebih mengedepankan emosi dengan alasan-alasan egoisme diri yang akan mengakibatkan pembenaran terhadap diri sendiri, sehingga tidak lagi memperdulikan pendapat orang lain, walaupun diri kita membenarkan pendapat mereka, hal tersebutlah yang menyebabkan intuisi kita tidak lagi dapat bekerja. Dalam memahami AL-QURAN kita dituntut untuk bisa jujur pada diri sendiri dan harus mengikuti “Sudut Pandang” ALLAH serta ngesampingkan sudut pandang atau wawasan-wawasan diri kita, agar dapat kita pilih dan pilah sesuai dengan Aturan, petunjuk atau "perspektif" Allah, sebagaimana diperintahkan Allah untuk "membunuh" Egoisme diri kita, yang dijelaskan dalam bahasa muthasyabihat/perumpamaan yang indah dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat 54 :


Ayat diatas dengan dasar referensi Allah di Surat An-Nuur (24) ayat 34 :


3) Kedewasaan Sikap, Kedewasaan Akal Pikiran tidak bisa ditentukan oleh umur seseorang, umur tua tidak bisa dijadikan ukuran bahwa orang itu dewasa dalam berfikir, Kedewasaan ditentukan oleh Pengetahuan dan Sikap kita dalam menetukan pengetahuan mana yang akan kita ikuti/aplikasikan (baca juga; DASAR PENGETAHUAN MANUSIA), setelah mengetahui dan memahami seluruh tulisan yang ada di www.bungandi.com diantaranya Fenomena Khilafah Di Nusantara, Khilafah Dalam Al-Quran, Makna Sunnatullah, Dasar Pengetahuan Manusia Dengan Konsep Tauhid dan lain sebagainya (Penulis jaminkan tidak akan ada pertentangan di dalamnya baik dengan firman Allah maupun dengan akal logika/metode ilmiah) maka saat itulah pembaca dituntut untuk mengambil sikap atau pilihan antara TAUHID/Golongan Kanan (mengikuti satu petunjuk) atau KUFUR/Golongan Kiri (menutup diri).

Setelah pembaca dapat memahami dan dapat mengaplikasikannya kedalam pola pikir, barulah kita bisa melanjutkan ke tahap pengenalan Tujuan Hidup kita khususnya dan manusia/Ummat pada umumnya menurut "Perspektif" Sang Pencipta, Pemilik Alam Semesta ini. Untuk itu mari kita cerdasi firman Allah berikut ini :
يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لِتَعَا رَفُوْا ۗ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti."
(QS. Al-Hujurat (49): Ayat 13)

Berdasarkan ayat diatas Allah katakan bahwa yang paling DIA sukai / muliakan diantara manusia adalah manusia yang bertaqwa tanpa memandang jenis kelamin, bangsa manapun dan atau suku manapun. tanpa menyebutkan Anda ber"Agama" apa? kaya atau miskin? tua atau muda? cantik atau jelek? semuanya rata di "Mata" Allah. Pertanyaannya seperti apa yang Allah maksud dengan Orang yang Bertaqwa? , untuk itu sudah Allah jelaskan dalam firman Allah berikut ini :
وَسَا رِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَا لْاَ رْضُ ۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ ۙ 
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ۚ 
133. "Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,"
134. "(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan."
(QS. Ali 'Imran (3); Ayat 133-134)


Allah dalam memberikan segala keputusan, aturan, atau pun keterangan akan selalu memberikan pejelasan-penjelasannya secara detail didalam Kitab Besar / Loh Mahfuz (Alam) dan Kitab Kecil (Kitab-Kitab ALLAH / Al-Quran) sehingga jika ada seribu orang yang membaca dan mempelajari Al-Quran maka seribu orang tersebut akan mempunyai penafsiran dan pemahaman yang sama, tidak seperti yang terjadi sekarang (multi-tafsir). Apa Penyebabnya ???...........


seperti contoh ayat diatas, untuk orang-orang yang belum ber-Tauhid pasti tidak akan bertanya lagi seperti apa "orang yang berbuat kebaikan", mereka akan menafsirkan menurut wawasan atau pengetahuan dia yang berdasar kepada prasangka (Subjektif dan Objektif / baca; DASAR PENGETAHUAN MANUSIA), mereka tidak pernah bertanya pada diri mereka sendiri seperti apa yang dimaksud "orang yang berbuat kebaikan" menurut "perspektif" Allah.

coba pembaca lihat di Al-Quran nya masing-masing di surat Al-Baqarah (2) ayat 177 seperti apa "Perspektif" Allah tentang "orang yang berbuat kebaikan"??
kurang lebih begitulah cara kerja membaca Al-Quran, setiap ayat menjelaskan ayat yang lainnya, bila terdapat pertentangan, maka bukan Al-Quran nya yang salah, tetapi Anda yang salah menafsirkannya [QS.An-Nisa (4) ayat 82].

perlu pembaca ketahui!! jika jawaban anda benar bukan berarti anda yang benar karena tidak ada manusia yang pandai/pintar, Pengetahuan mereka semua berasal dari hasil contekan baik dari sesama manusia atau pun dari alam, tetapi Allah lah yang Maha Benar dan DIA lah yang berhak menjelaskan segala sesuatunya.

الحق من ربك فلا تكونن من الممترين
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.
(QS. Al-Baqarah (2); Ayat 147)
 ونزلنا عليك الكتاب تبيانا لكل شيء وهدى ورحمة وبشرى للمسلمين, .......
............. ,Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
(QS. An-Nahl (16); Ayat 89)

Pembaca yang budiman,
Firman Allah di QS. Al-Hujurat (49): Ayat 13 diatas dan ayat-ayat lainnya yang saling menjelaskan dan saling terikat (tidak bertentangan baik dari ayat per ayat maupun akal logika manusia) adalah Penghujung dari Tujuan Hidup Manusia menurut "Perspektif" ALLAH, Selanjutnya, pernahkah ANDA bertanya pada diri anda sendiri, Seperti apakah "Pandangan" atau Posisi Diri Anda di "Mata" Allah ???...

Diperumpamakan "orang yang tersesat" di jalan atau di sebuah hutan belantara, mereka yang tersesat pasti mengetahui tujuannya mau kemana tetapi tidak mengetahui bagaimana cara untuk sampai ke tujuan tersebut atau harus lewat arah yang mana. Sama dengan keterangan-keterangan diatas adalah Tujuan yang semua orang "beriman" mengetahui yaitu menjadi orang yang diMULIAKAN oleh Allah. tetapi apakah "saya" mengetahui cara untuk menuju kesana menurut "Maunya" Allah??? 


untuk penjelasan lebih lanjut silahkan ikuti artikel berikutnya :
TERSESAT DI JALAN YANG BENAR



Dia-lah Allah,
Yang tiada Tuhan (yang berhak diABDI) selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Dia-lah Allah,
Yang tiada Tuhan (yang berhak diABDI) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Dia-lah Allah,
Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Qs. Al-Hasyr (59) ayat 22-24



klik "ALLOW" pada notifikasi yang muncul agar dapat menerima update terbaru, atau klik gambar lonceng merah di kanan bawah browser - continue

loading...

Belum ada Komentar untuk "TUJUAN HIDUP berdasarkan KONSEP TAUHID"

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog sederhana ini, cara bicara menunjukkan kepribadian, berkomentarlah dengan baik dan sopan…

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel