APAKAH MUSYRIK ITU ???

DOSA TIDAK DI AMPUNI



Para pembaca yang budiman,


Pada renungan awal ini, penulis ingin mengajak anda untuk membicarakan satu hal yang sangat penting dalam kehidupan ini, namun seringkali tidak disadari atau dihiraukan oleh manusia. Padahal, jika persoalan ini mampu di pahami dengan benar esensi dan prakteknya, maka sesungguhnya kehidupan ummat manusia saat ini akan damai dan sejahtera, baik secara moral spiritual maupun fisik materiil. Apakah persoalan yang amat penting dan mendasar tersebut ???
yaitu, Persoalan tentang kemusyrikan, apa sesungguhnya musyrik itu?

Dalam tradisi dan doktrin agamis, kata "musyrik" itu dimaknai dengan menduakan atau mempersekutukan Allah. Bentuk dari kemusyrikan itu seperti ; menyembah atau menuahkan sesuatu (misalnya, pohon besar, patung, batu, kuburan, keris, dan semacamnya), meminta pertolongan kepada dukun (orang "pintar"), mempercayai khurafat, dan semacam-nya. itulah bentuk-bentuk kemusyrikan yang diajarkan dalam tradisi dan doktrin agamis.


Jika Anda ingin merenungi semua aktivitas kemusyrikan yang disebutkan di atas,sesungguhnya aktivitas-aktivitas tersebut hanya akan dilakukan oleh orang-orang bodoh, penakut, dan tidak memiliki kepercayaan diri untuk menghadapi kehidupan ini. Aktivitas-aktivitas tersebut sesungguhnya tidak ada kaitannya secara langsung kepada Allah yang berhak untuk untuk di abdi, yakni ditaati segala kehendak dan perintah-NYA. Tanpa menggunakan dasar wahyu atau firman Allah pun, aktivitas-aktivitas tersebut adalah sesuatu yang tidak diterima oleh akal sehat. Sehingga seluruh aktivitas yang dikategorikan perbuatan syirik diatas dalam tradisi dan doktrin agamis adalah kebodohan sosial spiritual belaka yang tidak akan membuat Allah cemburu dan marah, atau masih berupa kemusyrikan kecil semata. Sedangkan kemusyrikan yang sesungguhnya akan membuat DIA cemburu dan marah besar, karena kemusyrikan itu adalah kezaliman yang sangat besar. Wajar jika Allah mengingatkan secara tegas mengenai kemusyrikan ini. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa ayat Al-Quran. Seperti dalam surat Al-An'am (6) ayat 88 :

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.

Al-Quran surat An-Nisa (4) ayat 36 :

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

Al-Quran surat Al-Maidah (5) ayat 72 :

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun. 

Al-Quran surat An-An'am (6) ayat 151 :

Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).

Begitu pula wasiat Nabi Luqman kepada anaknya, untuk menjauhi kemusyrikan yang di abadikan dalam surat Luqman (31) ayat 13 berikut ini :

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar".

Kemusyrikan adalah kezaliman yang besar (dosa besar), sehingga Allah sendiri tidak akan mengampuni dosa syirik seseorang hingga dia kembali berTAUHID hanya kepada-NYA. Penegasan ini difirmankan dalam surat An-Nisa (4) ayat 48 dan 116 berikut ini :

48. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.


116. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

Dari beberapa ayat diatas semakin menyakinkan kita bahwa, DIA amat benci kepada hamba-hamba-NYA yang berlaku syirik (musyrik), lalu apa sesungguhnya wujud dari kemusyrikan itu ???

secara bahasa "musyrik" berarti orang yang mensyarikati; mempersekutukan; menandingi; atau menduakan Allah. Dengan demikian, orang tersebut menyakini atau menempatkan sesuatu atau seseorang sebagai sekutu (bisa teman/pimpinan) atau tandingan Allah. Bagaimana mungkin Allah Yang Maha Segalanya dapat ditandingi oleh selain DIA ???


untuk menjawabnya kita harus mengkaji ulang kedudukan ALLAH bagi alam semesta termasuk bagi manusia. Surat Al-Fatihah (1) sebagai Pembuka Al-Quran dan Surat An-Nas (114) sebagai Penutup Al-Quran menjelaskan hal tersebut. setidaknya Allah menjelaskan kedudukan diri-NYA dalam tiga hal.


PERTAMA; Kedudukan Allah sebagai Rabb, baik bagi alam semesta maupun bagi ummat manusia. Yang dimaksud Allah sebagai Rabb adalah Dia sebagai Sang Pencipta, Pengatur dan Pendidik Alam Semesta dengan sifat Rahman dan Rahim-NYA. Sebagai Allah tidak pernah berhenti menjalankan tugas-Nya dalam mencipta, mengatur, serta mendidik alam semesta, termasuk manusia didalamnya. Dia mencipta dan Mengatur semua ciptaan-Nya menurut sistem hukum yang telah diciptakan-Nya. Dia terlebih dahulu mencipta sistem hukum (DIN)-NYA sebelum dia mencipta alam semesta dan ummat manusia. sehingga tatkala alam semesta dicipta, mereka tunduk patuh (berserah diri) kepada sistem hukum yang telah diundangkan oleh-Nya kepada masing-masing ciptaan (makhluk), tidak terkecuali manusia. inilah fitrah penciptaan bagi setiap makhluk di alam semesta. Perhatikan Surat Al-An'am (6) ayat 164 ;

Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan".

berbeda dengan makhluk lainnya di alam ini, manusia dengan akal pikirannya diberi kebebasan oleh Allah dalam menentukan sikap pengabdiannya, apakah mereka ingin menjadi hamba yang iman dan patuh (mu'min) atau menjadi hamba yang kafir zalim (musyrik). tentu saja setiap pilihan sikap tersebut memiliki proses dan konsekuensi tersendiri.


berbicara kedudukan Allah sebagai Rabb, maka berbicara tentang "Rububiyah" atau aturan Hukum Allah. Satu unsur utama dari DIN (sistem hukum Allah) tentang hidup dan kehidupan adalah Hukum ata Undang-Undang Allah, baik yang tidak tertulis (hukum-hukum pada alam) maupun yang tertulis (hukum-hukum pada Al-Kitab). Tentu saja, kumpulan hukum-hukum Allah yang tertulis didalam Al-Kitab (Taurat, Injil, dan Al-Quran) adalah hukum yang harus ditegakkan dan dilaksanakan dalam kehidupan ummat manusia. Hukum Allah harus menjadi HUkum Positif. Lalu apa hubungannya dengan kemusyrikan ???


Ketika ummat manusia atau suatu negara bangsa tidak menjadikan hukum Allah sebagai Undang-Undang atau Hukum Positif, dan mengambil hukum negara-negara bangsa penjajah/penguasa yang merupakan produk dari pemikiran dan syahwat manusia sebagai undang-undang atau hukum positif, maka sesungguhnya mereka atau bangsa itu adalah manusia atau bangsa yang musyrik. Mereka telah melakukan perbuatan Syirik Rububiyah. Mereka telah menyakini, menempatkan, dan menjalankan hukum penguasa bangsa (thaghut) disamping hukum Allah yang fitrah dan yang hak untuk ditegakkan. Ingat, kebenaran sejati hanyalah berasal dari Allah, sehingga hukum diluar hukum dia adalah batil. Oleh karenanya, siapa pun yang memutus suatu perkara bukan menurut hukum Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir, zalim, dan fasiq. Perhatikan surat Al-Maidah (5) ayat 44, 45, dan 47 berikut ini :


44. Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
45. Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barang siapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim.


47. Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.

Hukum atau Undang-Undang Allah adalah bersifat UNIVERSAL dan tidak pernah berubah. Hukum Allah berlaku bagi segenap ummat manusia tanpa melihat tempat dan waktu. Hukum Allah adalah sesuatu yang fitrah bagi kehidupan ummat manusia tanpa melihat suku, bangsa, warna kulit, dan bahasa. sangat berbeda dengan hukum negara-negara bangsa atau hukum hasil konsensus manusia yang sarat dengan kepentingan pribadi, kelompok, golongan, atau penguasa/penjajah. Hukum manusia hanya bersifat parsial, sesaat, dan berpihak pada mereka yang berkuasa dan berduit. Hukum atau Undang-Undang dari suatu negara bangsa hanya untuk kepentingan pribadi bangsanya atau sekelompok/segolongan dari bangsa tersebut. Hukum bangsa-bangsa Kafir-Musyrik tidak akan mampu memberikan keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan sejati bagi seluruh rakyatnya. Akhirnya, masing-masing bangsa atau negara merasa bangga dengan bangsa atau negaranya masing-masing. Tiap-tiap partai dari suatu negara merasa bangga dengan partainya. Tiap-tiap golongan atau kelompok pun merasa bangga dengan golongan atau kelompoknya; Bahkan tiap-tiap Agama atau Mazhab juga merasa bangga dengan agama dan mazhabnya masing-masing. Kehidupan dunia model seperti inilah yang merupakan buah dari ideologi musyrik; Ideologi yang memuja Pluralisme; yaitu kehidupan yang Anti-Tauhid. Inilah bentuk kehidupan Musyrik yang penuh dengan kekufuran, kezaliman dan kefasikan. Kalaupun ada dari mereka yang ingin menggunakan Hukum Allah, mereka hanya mengambil sebagian dan menafikan sebagian lainnya.


Model kehidupan berbangsa dan bernegara (dimana salah satu unsur dasarnya adalah undang-undang) yang dibangun oleh sistem pluralis yang berpartai-partai atau bergolong-golongan saat ini sesungguhnya adalah bentuk dari kemusyrikan itu sendiri. Silahkan anda renungkan kembali firman Allah tentang bentuk kemusyrikan di atas dalam surat Ar-Rum (30) ayat 30-31 berikut ini :



Sekarang, lihat sekeliling Anda! Jika anda hidup dalam lingkungan yang demikian, berarti Anda sedang hidup dalam kehidupan musyrik. Jika Anda menyakini dan menjalani model kehidupan seperti di atas, berarti Anda sedang berbuat atau menjadi seorang Musyrik. Inilah pandangan Al-Quran tentang kemusyrikan, suatu dosa yang tidak dapat di ampuni oleh Allah. Selain itu, semua pengabdian atau amal ibadah yang diperbuatnya tidak akan bernilai di sisi Allah. Di "Mata" DIA, orang-orang yang musyrik itu adalah orang-orang yang tidak suci atau NAJIS sehingga ibadahnya tidak akan pernah diterima oleh-NYA. Perhatikan firman Allah dalam Al-Quran surat At-Tawbah (9) ayat 28 berikut ini :
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, ........

Sekali lagi, orang-orang musyrik itu najis di hadapan Allah. Tentu saja najis yang dimaksud bukanlah najis secara fisik yang sering dibahas dalam mazhab fikih, akan tetapi najis secara spiritual (aqidah). mereka memiliki kesadaran dan keyakinan (ideologi) musyrik (batil) yang dijadikan landasan dalam berbangsa dan bernegara, khususnya dalam menjalankan hukum dan undang-undang (musyrik rububiyah). jadi jangan pernah berharap untuk dapat memahami "perkataan" Allah (Al-Quran) selama Anda belum keluar dari kehidupan tersebut, sebagaimana dijelaskan Allah dalam surat Al-Waaqi'ah (56) ayat 79

tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.

yang bisa Anda lakukan hanyalah mengimani sebagian dan mengkafiri sebagiannya lagi dari firman-firman Allah, serta mencari-cari taqwilnya agar Al Kitab / Al-Quran sesuai dengan pemikiran Anda.


KEDUA; Kedudukan Allah sebagai Malik (Raja atau Penguasa). Dia adalah Raja Alam Semesta, Raja Hari Kemudian (maliki Yawm ad-din), dan Raja ummat manusia (Maliki an-nas).

Allah adalah Rabb al-alamin (Rabb Alam Semesta) sehingga Dia pun menjadi Raja Alam Semesta. Kerajaan-NYA meliputi langit dan bumi beserta segala makhluk yang ada di antara keduanya. Itulah wilayah dari kekuasaan Allah, termasuk bumi dimana manusia berdiam dan beraktivitas. Sangatlah logis jika seluruh makhluk yang ada di dalam Kerajaan-Nya tunduk patuh (aslama) kepada Kekuasaan-Nya, yakni aturan Hukum dan Undang-Undang Allah. Dia lah Sang Pemilik tunggal yang sejati dari seluruh kekayaan yang ada di alam ini. Dia tidak memiliki sekutu dalam menguasai Kerajaan-Nya. Perhatikan firman-Nya dalam surat Al-Isra (17) ayat 111 berikut ini :
Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.

perhatikan pula surat Al-Furqan (25) ayat 2 :

yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.

Tidak boleh ada satu pun makhluk yang menjadi pemilik atau raja dari makhluk lainnya. Semua makhluk (termasuk manusia) harus tunduk pada kekuasaan Sang Pemilik, Raja Langit dan Bumi. Ketika seluruh makhluk di alam semesta dan ummat manusia hidup sesuai dengan apa yang menjadi titah dan kehendak-Nya, maka kehidupan dan alam sosial manusia akan dipenuhi keberkahan, yakni kehidupan yang harmonis, adil, damai dan sejahtera. Itulah kehidupan Jannah, kehidupan surgawi yang di idamkan oleh semua manusia berakal dan beriman. Langit dan Bumi beserta isinya akan menjadi sumber berkat bagi kehidupan ummat manusia. Penegasan ini dapat dilihat dalam surat Al-A'raf (7) ayat 96 berikut ini :


Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.


Kehidupan jannah penuh berkat tersebut akan berubah menjadi kehidupan neraka yang penuh dengan kutuk (ghadhab) Allah manakala manusia tidak beriman atau berlaku syirik kepada kekuasaan-NYA.


Dalam sistem hukum (DIN) Allah yang murni, unsur utama yang harus ada untuk dapat menegakkan Hukum dan Undang-Undang Allah adalah aparat penguasa (Khilafah) yang akan menjadi penegak dari Din Allah. Hukum dan Undang-Undang Allah (sistem Rububiyah) tidak akan dapat ditegakkan dalam kehidupan manusia manakala tidak ada penguasa atau pemerintah (penegak hukum). Karena hukum dan undang-undang yang ditegakkan adalah dari Allah, maka kekuasaan (Khalifah) yang akan menegakkan rububiyah Allah pun harus berasal dari Allah. Khilafah Allah (Kerajaan Allah) yang dipimpin oleh seorang Khalifah Rasul (pengganti Rasul) adalah anugerah langsung dari-NYA, bukan pemberian dari penguasa bangsa-bangsa dunia. Jadi, seorang Khalifah dalam Din Al-Islam hakikatnya adalah pengganti atau wakil Allah dalam menjalankan kekuasaan-Nya dimuka bumi, dalam mengatur sistem kehidupan ummat manusia agar tetap berjalan harmonis, adil, damai, dan sejahtera, seperti pada kehidupan makhluk lainnya di Alam Semesta sebagai bagian dari Kerajaan Allah. Sekali lagi, rububiyah (hukum dan undang-undang) Allah tidak akan pernah tegak tanpa adanya mulkiyah (kekuasaan; penguasa) dari Allah. Dengan demikian, adanya Khilafah dalam Din Al-Islam adalah sesuatu yang wajib (mutlak) adanya. Tanpa adanya Khalifah (pemimpin; penguasa) dari Kerajaan Allah di dunia, maka ummat manusia akan hidup dan tunduk pada kekuasaan tirani zalim (thaghut). Inilah yang disebut dengan musyrik mulkiyah; syirik terhadap Kekuasaan (Kerajaan) Allah, khusunya dalam kehidupan manusia (berbangsa dan bernegara).


Para penguasa dari negara-negara bangsa dimuka bumi ini telah menjadi tandingan (andad) Allah dalam mengatur dan menguasai manusia. Di pihak lain, ummat manusia telah memilih dan menjadikan para raja dan presiden sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas negara bangsa masing-masing, sama seperti Fir'aun di zaman Nabi Musa as. Inilah wujud dari kemusyrikan. Hukum dan Undang-Undang yang mereka buat didasari oleh ideologi yang musyrik dan para pemimpin yang mereka pilih pun dari sistem kekuasaan (politik) yang musyrik. Wajar jika keharmonisan, keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan sejati tak kunjung nyata. Semuanya hanya menjadi impian dan janji-janji politik kosong dari para penguasa atau calon penguasa.
KETIGA; Kedudukan Allah sebagai Al-Ma'bud atau ILAH bagi Manusia (ilah an-nas). Dalam surat Al-Fatihah (1) ayat 5 dikatakan , "Hanya kepada-MU kami mengabdi dan hanya kepada-MU kami meminta pertolongan".


Secara bahasa kata "Al-Ma'bud" berarti "Yang di Abdi; Yang di Taati; Yang di Patuhi". Sedangkan kata "ilah" berarti Tuhan atau Tuan (kata ganti "pemilik"), yakni sesuatu yang dicintai; sesuatu yang dikagumi; atau sesuatu yang di taati keinginannya. Sehingga dalam hidup dan kehidupan ini, ada banyak hal yang dapat menjadi "ilah" atau tuan bagi manusia disamping Allah, Tuhan YME, termasuk ber-ilah (tuan) kepada hawa nafsu pribadinya. Perhatikan, misalnya, pernyataan Al-Quran surat Al-Furqan (25) ayat 43-44 berikut ini :


43.Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya???
44.atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).

perhatikan pula surat Al-Jatsiyah (45) ayat 23 :
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Namun demikian, yang berhak untuk ditaati segala kehendak dan perintah-Nya oleh manusia hanyalah kehendak dan perintah Allah, Tu(h)an Semesta Alam (La ilaha illa Allah). Inilah yang juga disebut Tauhid Uluhiyah. Jika dalam kehidupan ini, anda memiliki kecintaan melebihi kecintaan Anda kepada Allah dan Rasul-NYA, Anda memiliki keinginan selain keinginan yang diridhai oleh-NYA , Anda memiliki ketaatan selain kepada kekuasaan-NYA, maka berarti Anda telah melakukan kemusyrikan, musyrik uluhiyah.


Hubungan antara Allah dengan manusia adalah hubungan antara "Yang di Abdi" (ilah atau Al-Ma'bud) dengan "yang mengabdi" (hamba atau budak). Sebagai hamba, maka sudah sepantasnya manusia hanya mengabdi (taat) pada pengabdian tunggal, yakni hanya kepada Sang TUAN Yang Esa. Dia YAng Mencipta, Mengatur, dan Menguasai Alam Semesta. Inilah fitrah hidup dari manusia yang telah menyadari hakikat dirinya sebagai hamba. Bahkan dalam setiap misi dakwah para Rasul Allah, mereka selalu mengajak dan mengingatkan manusia untuk kembali kepada garis fitrahnya tersebut. yakni menjadi hamba yang menegakkan Tauhid Uluhiyah. Perhatikan Al-Quran surat Al-Anbiya (21) ayat 25 berikut ini :

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".

Jika sebelumnya sudah dijelaskan tentang dua unsur utama dari sistem hukum Allah (Din Al-Islam) - yakni unsur rububiyah (hukum dan undang-undang) dan unsur mulkiyah (penguasa; pemerintah; penegak hukum), maka unsur ketiga yang harus ada dalam menegakkan Din Al-Islam secara totalitas (kaffah) adalah unsur Uluhiyah, yakni masyarakat atau warga atau ummat yang siap tunduk patuh (taat) kepada Hukum dan Undang-Undang Allah yang dikawal oleh penguasa (pemerintah). Dengan demikian, tiga unsur utama yang harus ada dalam penegakan Din Al-Islam secara sempurna adalah :



  1. Hukum dan Undang-Undang Allah;
  2. Khalifah Allah (penguasa atau pemerintah); dan
  3. Rakyat atau ummat yang akan mematuhi Hukum atau Undang-Undang Allah.
Di samping tiga unsur tersebut, satu unsur pelengkap yang juga harus ada adalah wilayah hukum atau wilayah kekuasaan dari Khilafah Allah tersebut (Darussalam atau Madinah).

bagaimanapun juga, manusia harus berfungsi sesuai dengan keinginan dari Sang Penciptanya. Ketika manusia berfungsi diluar yang diinginkan oleh Sang Pencipta, maka dia telah menjadi makhluk yang batil atau musyrik, menjadi makhluk yang dikehendaki oleh keinginan "ilah" yang lain selain Allah. Tauhid Uluhiyah menghendaki adanya ketaatan (pengabdian) tunggal hanya kepada-NYA. inilah yang selalu diingatkan oleh para Nabi dan Rasul Allah. Hal ini dapat dilihat dari beberapa firman Allah berikut ini:
  • Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 133 :



  • Al-Quran surat An-Nisa (4) ayat 36 :



Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

  • Al-Quran surat Al-A'raf (7) ayat 59 :



Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa adzab hari yang besar (kiamat).

  • Al-Quran surat Al-A'raf (7) ayat 65 :



Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?"

  • Al-Quran surat Al-A'raf (7) ayat 73 :



Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, shaleh. Ia berkata. "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih."

  • Al-Quran surat Al-Ankabut (29) ayat 16 :



Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: "Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

  • Al-Quran surat Az-Zumar (39) ayat 11 :




Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) DIN.

Para Pembaca....
Sudah semakin jelas dan tegas apa dan bagaimana bentuk kemusyrikan yang sesungguhnya. Sesuatu yang teramat penting bagi kehidupan kita, namun sayangnya luput dari kesadaran kebanyakan manusia. Jika sekiranya saat ini kita hidup di tengah-tengah kehidupan negara bangsa dan dunia yang musyrik, yang kafir kepada hukum Allah, lalu apa semestinya kita perbuat??? Duduk diam dan pasrah terhadap kondisi yang ada ATAU melakukan teror atau makar kepada penguasa? TIDAK

Dalam kondisi malam (zhulumat) seperti ini, hal yang mesti kita selamatkan dan luruskan terlebih dahulu adalah aqidah (keimanan) kita. Minimal menyucikan dan menjaga aqidah (keimanan) kepada Allah di dalam Qalbu (kesadaran) kita masing-masing. Bagaimanapun, pondasi (dasar) dari bangunan Din Al-Islam adalah Aqidah (iman) kepada-Nya. Tauhid Rububiyah, Tauhid Mulkiyah, dan Tauhid Uluhiyah harus betul-betul suci dalam keimanan diri kita, minimal dalam kesadaran Qalbu. Inilah level iman yang terendah yang dapat dilakukan. Hal yang menjadi dasar penilaian dari Allah adalah iman seseorang. Allah tidak akan membebani manusia sesuatu yang belum pantas atau belum saatnya untuk dilaksanakan. Setiap perintah atau hukum Allah selalu terikat dengan ruang dan waktu. Dia tidak akan memaksakan kita untuk melihat matahari di kondisi malam. Memaksakan sesuatu yang bukan pada tempatnya atau memaksakan melakukan sesuatu yang belum pada waktunya hanya akan menimbulkan kerusakan dan kezaliman.


Meskipun kita hidup di tengah-tengah kondisi dan lingkungan masyarakat bangsa yang musyrik, bukan berarti kita harus turut larut dalam kemusyrikan. Ingat! Musyrik itu adalah najis, maka segala ajaran dan pemahaman yang ada didalamnya adalah sesuatu yang najis dan menajiskan. Sekuat mungkin segala bentuk kemusyrikan yang sudah dijelaskan di atas harus dapat dihindari dan ditinggalkan, khususnya secara aqidah (spiritual). Adapun secara praktik, khususnya dalam hal hukum, semua warga negara harus tunduk pada aturan hukum penguasa atau hukum positif.


Kiranya kesadaran qalbu pembaca sudah tercerahkan oleh Tafakkur (renungan) diatas dan membuat mata Anda bisa melihat mana kehidupan yang Hak (suci) dan mana kehidupan yang batil (najis), dan dapat membedakan antara keimanan dan kemusyrikan. Jauhilah kemusyrikan itu, karena Syirik adalah Dosa Besar yang tidak akan diampuni oleh-Nya. Bersihkan diri Anda dari kenajisan ideologi musyrik dan jangan biarkan diri Anda menjadi orang-orang Tuna Spiritual. WASPADALAH...!!!






klik "ALLOW" pada notifikasi yang muncul agar dapat menerima update terbaru, atau klik gambar lonceng merah di kanan bawah browser - continue
loading...

Belum ada Komentar untuk "APAKAH MUSYRIK ITU ???"

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog sederhana ini, cara bicara menunjukkan kepribadian, berkomentarlah dengan baik dan sopan…

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel