SEJAK KAPAN ANDA BERIMAN ???

SEJAK KAPAN ANDA BERIMAN ???

والله أخرجكم من بطون أمهاتكم لا تعلمون شيئا وجعل لكم السمع والأبصار والأفئدة لعلكم تشكرون
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
[QS. An-Nahl (16) ayat 78]


Para Pembaca yang budiman ...
Sejak kanak-kanak hingga umur dewasa, penulis seringkali mendengar dari para guru agama islam dan juru dakwah yang mengatakan, bahwa manusia sudah mengenal Allah, Sang Pencipta manusia, sejak manusia masih berupa janin dalam rahim ibunya. Hal ini ditandai dengan adanya dialog antara Allah dengan sang janin (calon manusia) didalam rahim. "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". Dialog tersebut merujuk pada firman Allah dalam surat Al-A'raf (7) ayat 172. Ayat ini dijadikan dalil bahwa sejak dalam kandungan, manusia sudah menyadari keesaan Allah sebagai dasar keberimanan seseorang, sehingga tidak ada alasan bagi manusia ketika hidup di dunia untuk mensyarikati Allah, meskipun keluarga dan lingkungannya adalah orang-orang kafir-musyrik. Pada dasarnya manusia sudah mengenal Allah dan sudah menyadari keesaan Allah sejak dalam kandungan dan sudah menjadi fitrah manusia mengenal siapa Sang Penciptanya. Demikian doktrin spiritual yang dipahami oleh mayoritas ummat Islam di dunia secara turun temurun.



Doktrin tersebut juga bersemayam sekian lama dalam diri penulis, puluhan tahun lamanya, hingga akhirnya penulis mulai merenung, terus berfikir, dan memberanikan diri untuk mendobrak doktrin agamis tersebut. Penulis hanya mulai dari pertanyaan-pertanyaan sederhana yang menggelitik akal kesadaran penulis. Bagaimana mungkin sebuah janin yang belum sempurna proses penciptaannya dapat berdialog dengan Allah di dalam perut ibunya?, Bukankah si janin masih sangat bergantung pada ibunya?, Sebab janin dapat mendengar suara dengan bantuan pendengaran ibunya, lalu bagaimana mungkin terjadi dialog yang tidak disadari oleh sang ibu? Bukankah seseorang dapat mengetahui atau mengenal sesuatu karena adanya proses "belajar", bukan sesuatu yang tiba-tiba ada dalam kesadaran seseorang?

Secara spiritual, Allah Yang Maha Mengetahui tidak mungkin (mustahil) menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya yang saling bertentangan antara satu ayat dengan ayat lainnya. Kalaupun secara tekstual ada beberapa ayat yang terkesan berbeda, sesungguhnya ayat itu bukanlah hal yang berbeda dan bertentangan. Sesungguhnya adalah ayat-ayat yang saling menguatkan. Terpulang kepada kemampuan manusia apakah dapat mengurai dan mencari titik temu dari ayat-ayat tersebut. Ayat-ayat Al-Quran sesungguhnya merupakan rangkaian cerita yang tersusun indah menjadi satu bacaan skenario dari Sang Sutradara kehidupan alam semesta, sehingga satu cerita dengan cerita lainnya merupakan episode yang berkelanjutan hingga akhir.

Demikian halnya jika kita ingin mencerdasi dan melakukan kritik atas pemahaman agamis dari ayat 172 surat Al-A'raf (7) tersebut. Pemahaman ayat ini tidaklah mungkin berbeda dan bertentangan dengan pemahaman ayat-ayat lainnya, tetapi sejatinya harus saling menguatkan. Jika terjadi kesalahpahaman atas ayat-ayat tersebut, maka yang salah bukan firman-firman (ayat-ayat) Allah (referensi Qs.An-Nisaa(4) ayat 82), tetapi kesalahan ada pada pemahaman dan penafsiran manusia. Ini adalah landasan yang pertama.

Kedua, manusia adalah makhluk yang berfikir. Oleh karenanya, Allah selalu menyuruh orang-orang beriman untuk berfikir, merenung dan mengkaji segala yang ada dalam kehidupan ini. Allah sangat senang dengan orang-orang yang ingin memaksimalkan sarana berfikir yang telah DIA berikan secara khusus kepada manusia. Sebaliknya, Allah sangat murka kepada orang-orang yang tidak mau menggunakan akal pikirannya.
Al-Quran adalah Kitab Petunjuk bagi orang-orang yang berakal, yakni orang-orang yang ingin memaksimalkan akal pikirannya untuk dapat memahami apa yang menjadi kehendak dan rencana Allah untuk dirinya dan alam sosial manusia. Sangatlah benar jika Allah berfirman dalam surat Yunus (10) ayat 99-100 berikut ini :
ولو شاء ربك لآمن من في الأرض كلهم جميعا أفأنت تكره الناس حتى يكونوا مؤمنين
وما كان لنفس أن تؤمن إلا بإذن الله ويجعل الرجس على الذين لا يعقلون
99.Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?
100.Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

Menjadi orang yang beriman adalah sesuatu yang tidak boleh dipaksakan apalagi diwariskan kepada siapa pun, karena Iman itu adalah Anugerah Tuhan. Salah satu syarat untuk mendapatkan anugerah-NYA tersebut adalah dengan menggunakan akal. Sehingga untuk menjadi manusia beriman itu harus menggunakan akal , bukan karena warisan atau perasaan yang subyektif.

Para Pembaca yang budiman...
Penulis hanya ingin menegaskan bahwa dalam prinsip wahyu Allah, tidak ada ayat-ayat dalam Al-Quran yang saling bertentangan dan tidak ada pula ayat-ayat Allah yang kontra dengan nalar (akal pikiran) manusia. Semua ayat-ayat Al-Quran bersifat ilmiah dan alamiah. Lalu apa hubungannya dengan doktrin agamis tersebut?

Untuk lebih jelasnya, mari renungkan kembali surat Al-A'raf (7) ayat 172-173 berikut ini :
وإذ أخذ ربك من بني آدم من ظهورهم ذريتهم وأشهدهم على أنفسهم ألست بربكم قالوا بلى شهدنا أن تقولوا يوم القيامة إنا كنا عن هذا غافلين
أو تقولوا إنما أشرك آباؤنا من قبل وكنا ذرية من بعدهم أفتهلكنا بما فعل المبطلون
172.Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
173.atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?"

Dengan menggunakan dua prinsip wahyu diatas sebagai dasar dalam memahami wahyu Allah, mari kita renungi dan pahami maksud dari firman Allah tersebut. Setidaknya ada beberapa kata kunci yang harus dikritisi dari ayat-ayat diatas.

Pertama, kata "Bani Adam" yang sering diterjemahkan dengan "Keturunan Adam". Tentu saja Adam yang dimaksud dalam ayat ini adalah Nabi Adam yang dikisahkan pada ayat-ayat sebelumnya dan pada ayat-ayat di surat-surat lainnya. Misalnya ingatan Allah kepada Bani Adam pada ayat 26, 27 dan 31 dalam surat yang sama (Al-A'raf). Sebelumnya, pada ayat 11 sampai 25 telah dikisahkan tentang Nabi Adam yang telah tergoda oleh tipuan manusia setan yang dikenal dengan nama Iblis (baca; Setan Mahluk yang Nyata ???). Iblis beserta kawanannya adalah komunitas yang dijadikan alat oleh Allah untuk menguji keyakinan dan ketaatan (keimanan) Adam dan para pengikutnya. Dengan demikian, kata "Bani Adam" lebih tepat dimaknai keturunan generasi spiritual (iman) Nabi Adam, BUKAN keturunan biologis dari Nabi Adam (seperti yang dipahami selama ini).
Bani Adam adalah musuh ideologis dari Bani Iblis, sebagaiman Nabi Nuh merupakan musuh dari Raja Kanaan (Duramsyil bin Fumail), Nabi Ibrahim adalah musuh dari Raja Namrud, Nabi Musa adalah musuh dari Raja Fir'aun, Nabi Isa adalah musuh dari Raja Herodes, dan Nabi Muhammad adalah musuh dari Abu Jahal (Sunnah Rasul yang tidak pernah berubah). Jika "Bani Adam" dipahami dengan seluruh ummat manusia sebagai generasi biologis Nabi Adam (karena dianggap sebagai manusia pertama di dunia), maka pertanyaannya, kepada siapa peringatan Allah tersebut ditujukan? Bukankah pada ayat tersebut allah berbicara kepada orang-orang beriman melalui Rasulullah Muhammad, bukan kepada masyarakat Mekah? Ayat-ayat tersebut diwahyukan Rasulullah Muhammad dan orang-orang beriman agar mereka dapat menjaga ketaatan dari tipu daya setan (musuh orang-orang beriman) seperti yang pernah terjadi pada diri Nabi Adam as. beserta ummatnya.

Silahkan perhatikan kembali ayat 26 dan 27 dari surat Al-A'raf tersebut:
يا بني آدم قد أنزلنا عليكم لباسا يواري سوءاتكم وريشا ولباس التقوى ذلك خير ذلك من آيات الله لعلهم يذكرون
يا بني آدم لا يفتننكم الشيطان كما أخرج أبويكم من الجنة ينزع عنهما لباسهما ليريهما سوءاتهما إنه يراكم هو وقبيله من حيث لا ترونهم إنا جعلنا الشياطين أولياء للذين لا يؤمنون
26.Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.
27.Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.

Sangatlah jelas bahwa yang dimaksud dengan kata "Bani Adam" dalam Al-Quran adalah generasi spiritual (iman) Nabi Adam, bukan generasi biologis Nabi Adam. Apa yang terjadi pada kisah Nabi Adam dan pengikutnya harus menjadi pelajaran (ilmu) bagi Rasulullah Muhammad dan orang-orang beriman. Hal ini dapat dimaklumi karena prinsip iman dari seluruh Nabi dan Rasul Allah adalah satu dan sama, yakni prinsip TAUHID, La ilaha illa Allah, tidak ada ketaatan dan kepatuhan (pengabdian) selain kepada Allah, Tuan Semesta Alam. Hal ini ditegaskan dalam Al-Quran surat Al-Anbiya (21) ayat 25 berikut ini :
وما أرسلنا من قبلك من رسول إلا نوحي إليه أنه لا إله إلا أنا فاعبدون
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tu(h)an (yang hak) melainkan AKU, maka sembahlah olehmu sekalian akan AKU".

Kedua, kata "kesaksian" dan "kami menjadi saksi", yang sama-sama menitikberatkan pada kata "saksi". Dari kalimat inilah muncil doktrin bahwa manusia sudah bersyahadat (bersaksi) sejak dalam kandungan. Mari kita cerdasi dan kritisi kalimat ini, "Dan Allah mengambil kesaksian terhadap diri mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Rabb-mu" Mereka menjawab "Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi".

Coba Pembaca renungkan! Mungkinkah kejadian dan dialog tersebut terjadi dalam rahim ibu, antara Sang Pencipta yang meminta pengakuan dari diri mereka (para janin)? Apakah mereka (para janin) sudah pernah bertemu dengan Allah sehingga mampu memberi kesaksian akan Dia sebagai Rabb? Lagi-lagi doktrin agamis akan menyangganya dan bersikeras mengatakan, bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang fitrah pada setiap proses penciptaan manusia dan bagian dari ke-Maha Kuasa-an Dia. Kita luput bahwa sesuatu yang fitrah itu adalah ciptaan Allah juga, terjadi secara alamiah dan tidak akan mungkin (mustahil) bertentangan dengan hukum Allah yang ilmiah (rasional) dan alamiah (natural).

Secara faktual, dalam kehidupan ummat manusia, seseorang yang dapat diambil kesaksiannya atau menjadi saksi adalah orang-orang yang berakal, dewasa, dan mereka yang mengetahui (melihat atau mendengar) secara langsung tentang hal yang akan dipersaksikannya. Mungkinkah Allah akan bertanya kepada sesuatu yang masih berupa janin, bukan kepada manusia yang sudah sempurna secara fisik dan rohaninya? Orang-orang yang yang siap menjadi saksi atau diambil kesaksiannya adalah mereka yang sudah mampu memaksimalkan sarana pendengaran, penglihatan dan akal pikirannya. Bagaimana mungkin sebuah janin dapat menjadi saksi?! Peristiwa dan dialog spiritual yang imajiner tersebut hanya dapat dilakukan antara Allah dengan generasi spiritual Adam yang sudah mampu mensyukuri pendengaran, penglihatan dan akal pikirannya untuk memahami ayat-ayat Allah yang terdapat pada alam ciptaannya (ayat-ayat Kauniyah) dan ayat-ayat Allah yang terdapat pada Kitab Suci-NYA (ayat-ayat Qauliyah), sehingga mereka dapat menjadi saksi. Mereka inilah generasi spiritual (iman) dari Nabi Adam as. yang dijuluki Allah dengan "Bani Adam".

Ketiga, selain kata kunci yang dapat mengantarkan kita pada pemahaman dan penafsiran yang benar, kita pun dapat memperjelas makna ayat ini dan maksud peristiwa atau dialog tersebut. Maksud dari peristiwa "pengambilan kesaksian" dari Bani Adam tersebut dijelaskan dalam lanjutan ayat tersebut dan ayat berikutnya (173), "... (Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tu(h)an sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?".

Jelas sekali, bahwa maksud dari peristiwa atau dialog tersebut ditujukan kepada "Bani Adam" yang sedang menjalani kehidupan di dunia, BUKAN kepada para janin yang belum jelas kehidupannya, kelahirannya, kesehatannya, dan lingkungan dimana mereka akan lahir dan hidup. Bahkan para janin sendiri tidak mengenal siapa ibu mereka, karena masih dalam kandungan. Bagaimana mungkin para janin telah mengetahui akan cerita orang-orang tua mereka yang musyrik? Mustahil alias tidak Ilmiah.

Para Pembaca yang budiman...
Mungkin Anda masih ragu dengan apa yang Penulis jelaskan diatas. Mari kita gunakan ayat-ayat Allah yang lainnya untuk memperkuat renungan tersebut. Satu hal yang perlu ditegaskan ulang, bahwa tidak mungkin ayat-ayat Allah itu saling bertentangan dan tidak mungkin kontra dengan prinsip-prinsip ilmiah dan nalar manusia.

Pertama, sejak dalam kandungan hingga ummat manusia terlahir ke muka bumi, dia tidak mengetahui sedikitpun akan sesuatu. Dia terlahir bagai selembar kertas putih nan bersih. Seiring dengan tumbuh kembang dirinya, secara perlahan dia mulai mengetahui sesuatu dengan bantuan tiga sarana dasar yang Allah berikan pada setiap individu (baca juga ; Dasar Pengetahuan Manusia), yakni pendengaran, penglihatan dan akal pikiran. Proses ini secara tegas difirmankan Allah dalam surat An-Nahl (16) ayat 78 berikut ini :
والله أخرجكم من بطون أمهاتكم لا تعلمون شيئا وجعل لكم السمع والأبصار والأفئدة لعلكم تشكرون
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

dari penegasan ayat diatas, jelaslah bahwa manusia pada dasarnya tidak memiliki pengetahuan apapun sebelum pendengaran, penglihatan, dan akal pikirannya dapat berfungsi dengan maksimal. Sehingga sangatlah tidak rasional jika dikatakan, bahwa manusia sudah mampu mengenal Allah dan bersaksi akan keesaan Allah saat dia masih dalam kandungan. Tidak mungkin manusia sudah beriman sejak dia masih berupa janin. Bukankah menjadi orang beriman itu memiliki konsekuensi spiritual tersendiri dalam hidup dan kehidupannya? Bagaimana seseorang yang beriman dalam rahim ibunya, kemudian dilahirkan , tumbuh dan besar menjadi seorang atheis? Apakah dia lupa bahwa dulu dia sudah bersaksi akan keesaan Allah dalam rahim ibunya? Sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Para pemegang doktrin agamis berkeyakinan hal tersebut adalah peristiwa spiritual yang hanya disadari oleh Allah dan janin yang bersaksi dalam kandungan ibunya. Hal ini adalah sesuatu yang fitrah bagi manusia, siapa pun dia dan dimanapun dia.

Sejatinya, penulis sepakat bahwa manusia pada fitrahnya telah memiliki kesadaran spiritual akan keesaan Allah, Sang Pencipta. Namun bukankah kesadaran spiritual seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia dilahirkan, dibesarkan, dan dididik. Keluarga (orangtua) adalah lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan kesadaran spiritual seseorang, termasuk kesadaran akan keTauhidan Allah, Tu(h)an Yang Maha Esa.

Belum lagi kalau kita kembali pada firman Allah dalam surat Yunus (10) ayat 100 diatas yang sudah "dibacakan" sebelumnya, sangatlah jelas bahwa menjadi seorang beriman itu adalah anugerah dan atas izin Allah. Menjadi orang beriman adalah hasil dari suatu proses pembelajaran spiritual, bukan sesuatu yang diwariskan secara turun temurun.

kedua, untuk memperkuat renungan dan kritik diatas, mari kita ambil satu contoh kasus, yakni diri Rasulullah Muhammad. Sejak kapan Rasulullah Muhammad menjadi orang beriman? Apakah sejak dia dalam kandungan? sejak masa kanak-kanak? atau sejak beranjak dewasa?

Mari Pembaca renungkan dua firman Allah dibawah ini yang langsung menunjuk kepada diri Rasulullah Muhammad sendiri, yakni pada surat Adh-Dhuha (93) ayat 7 :
ووجدك ضالا فهدى
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

Ayat ini turun diawal masa kenabian Muhammad dan Allah menceritakan bagaimana kondisi Muhammad sebelum mendapat perlindungan dari Allah dan mendapat petunjuk (wahyu) dari-NYA. Dengan tegas dikatakan, bahwa Dia mendapati kamu (Muhammad) dalam keadaan bingung atau tersesat (tidak mengetahui jalan kebenaran), lalu Allah memeberinya wahyu sebagai petunjuk. Dengan demikian, sekitar 40 tahun lamanya beliau hidup pada jalan kesesatan, jalan yang dimurkai Allah, hingga Allah memberinya hidayah Jalan Kebenaran.

Renungkan pula surat Asy-Syura (42) ayat 52 berikut ini :
وكذلك أوحينا إليك روحا من أمرنا ما كنت تدري ما الكتاب ولا الإيمان ولكن جعلناه نورا نهدي به من نشاء من عبادنا وإنك لتهدي إلى صراط مستقيم
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Pada ayat diatas dengan tegas Allah katakan, "... Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, ...". Yang dimaksud dengan kata ganti "kamu" diayat ini adalah Nabi Muhammad. Dengan Demikian, seorang Rasul Allah yang bernama Muhammad adalah seorang yang tidak mengetahui apakah iman itu sebelum mendapat wahyu (petunjuk) dari Allah. Sehingga sekitar empat puluh tahun lamanya, beliau belum menjadi orang beriman. Tanpa mempelajari dan memahami wahyu Allah, seseorang tidak akan mengetahui apakah iman itu secara benar. Yang banyak terjadi adalah orang-orang yang merasa atau mengaku-aku dirinya beriman, padahal mereka tidak sedikitpun memahami wahyu Al-Quran. Coba perhatikan firman Allah dalam surat An-Nisa (4) ayat 60 berikut ini :
ألم تر إلى الذين يزعمون أنهم آمنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت وقد أمروا أن يكفروا به ويريد الشيطان أن يضلهم ضلالا بعيدا
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

Para Pembaca yang budiman ...
Kembali kepada renungan dasar sebelumnya, "Sejak Kapan Anda Beriman?" Dengan beberapa ayat diatas seharusnya dapat dapat menggugurkan doktrin agamis yang selama ini diyakini oleh mayoritas ummat islam, bahwa manusia telah beriman (mengenal Allah) sejak dalam kandungan ibunya. Rasulullah Muhammad saja memahami makna iman itu setelah mendapat wahyu, BUKAN sejak dalam kandungan, apalagi dengan kita ummatnya atau mereka yang hidup di zaman dahulu dan mereka yang akan lahir kemudian. Tentu saja prinsip ini berlaku bagi segenap manusia yang ingin beriman menurut petunjuk wahyu Al-Quran, BUKAN menurut pendapat atau doktrin agamis nenek moyang kita.

Secara faktual, seorang Abu Bakar dan beberapa sahabat dikatakan beriman setelah mereka mengikrarkan keimanan (bersyahadat) di hadapan Rasulullah Muhammad, baik keimanannya terhadap keTauhidan Allah, maupun terhadap kerasulan Muhammad Saw. Jadi, keberimanan seseorang diawali dari kesadaran akan jati dirinya sebagai hamba yang harus tunduk patuh hanya kepada Allah, Sang Pencipta dirinya. Dia menyadari bahwa, "Tidak ada ilah yang patut untuk ditaati kehendak dan perintah-Nya selain Allah". Kesadaran ini kemudian di persaksikan secara lisan dalam satu kalimat syahadat, "Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah, Asyhadu an la ilaha illa Allah", Syahadat Tauhid ini diikuti dengan syahadat Rasul, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar dan para sahabat lainnya.

Kesaksian lisan tersebut harus diikrarkan di hadapan Rasulullah (sebagai Saksi Allah) atau dihadapan orang-orang yang lebih dulu beriman (sebagai saksi-saksi Allah dan Rasul-Nya). Ketika seseorang telah mengikrarkan kalimat tauhid tersebut dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan dari siapa pun, maka sejak saat itulah seseorang dikatakan menjadi manusia beriman. Tanpa kesadaran dan pernyataan lisan akan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, yang diikrarkan dihadapan orang-orang beriman sebagai saksi, maka seseorang belum dapat dikatakan beriman. Inilah bentuk perjanjian antara manusia sebagai hamba dengan Allah sebagai Sang Tuan. Silahkan renungi firman Allah surat Al-Fath (48) ayat 10 berikut ini:
إن الذين يبايعونك إنما يبايعون الله يد الله فوق أيديهم فمن نكث فإنما ينكث على نفسه ومن أوفى بما عاهد عليه الله فسيؤتيه أجرا عظيما
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

Kesadaran dan ikrar kesaksian (perjanjian) tersebut sangat penting, karena itulah awal seseorang menjadi "manusia baru", manusia yang terlahir kembali dalam satu kesadaran dan keyakinan baru; meninggalkan kesadaran spiritual yang musyrik (najis) menuju kesadaran spiritual yang tauhid (suci). Dengan demikian, seorang mu'min harus menafikan semua ilah (tuan atau ideologi musyrik) dalam kehidupannya, dan hanya patuh dan cinta pada Ilah Yang Esa. Inilah kesadaran dan sikap spiritual manusia beriman. Sekali lagi, kesadaran dan sikap iman tersebut tidak terjadi pada saat seseorang masih dalam kandungan atau masa kanak-kanak. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh mereka yang telah mampu berfikir dan bersikap dewasa. (baca juga : Tujuan Hidup berdasarkan Konsep Tauhid)

Menjadi manusia beriman haruslah atas dasar kesadaran ilmu (wahyu), bukan atas dasar doktrin dan tradisi nenek moyang yang tidak jelas dasar ilmunya. Mari menyakini ajaran Din Al-Islam dengan dasar ilmu (rasional), jangan mengikuti ajaran atau doktrin yang tidak memiliki pijakan kebenaran dan tidak bisa diterima akal sehat. Kalau Anda tidak memaksimalkan pendengaran, penglihatan dan akal pikiran Anda, maka nilai Anda di sisi Allah tidak lebih mulia dari binatang ternak bahkan lebih hina dari makhluk melata. Perhatikan ancaman-Nya dalam surat Al-A'raf (7) ayat 179 :
ولقد ذرأنا لجهنم كثيرا من الجن والإنس لهم قلوب لا يفقهون بها ولهم أعين لا يبصرون بها ولهم آذان لا يسمعون بها أولئك كالأنعام بل هم أضل أولئك هم الغافلون
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Akibat dari sikap manusia yang lebih hina dari binatang ternak tersebut, maka ummat manusia hidup dalam kehidupan jahannam yang persis sama dengan kehidupan binatang liar dan buas, kehidupan yang melulu berorientasi pada kepuasan fisik materiil, kehidupan yang mengandalkan kekuatan fisik, kehidupan yang saling membakar, dan membinasakan (mengadu domba) satu dengan yang lain. Itulah model kehidupan neraka jahannam yang ada di dunia ini.

Para Pembaca yang budiman ...
Sekarang Anda sudah dapat menjawab, " Sejak Kapan Anda Beriman?" Jika ternyata Anda belum pernah berjanji dan menyatakan keberimanan Anda, maka selama ini Anda hanya merasa diri telah beriman. Jika Anda telah mengikrarkan keberimanan Anda dengan penuh kesadaran, maka tentu saja ada orang-orang yang menjadi saksinya. Ternyata menjadi orang beriman tidak sesederhana yang kita pahami selama ini. Keimanan itu harus betul-betul dipahami terlebih dahulu sebelum diikrarkan secara lisan, selanjutnya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kiranya renungan dasar ini dapat mencerahkan dan membersihkan kesadaran spiritual Anda.


"iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong"





klik "ALLOW" pada notifikasi yang muncul agar dapat menerima update terbaru, atau klik gambar lonceng merah di kanan bawah browser - continue
loading...

Belum ada Komentar untuk "SEJAK KAPAN ANDA BERIMAN ???"

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di blog sederhana ini, cara bicara menunjukkan kepribadian, berkomentarlah dengan baik dan sopan…

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel